Langsung ke konten utama

Keluarga Bapak. Parino

Keadaan Masyarakat disuatu Negara yang tidak diketahui sangat memprihatinkan. Banyak masyarakat kalangan bawah yang belum mendapatkan kehidupan yang layak. Contoh saja Keluarga Bapak Parino. Dia bekerja sebagai pemulung yang di bantu istrinya. Gajinyapun belum cukup untuk kebutuhan seharinya, jangankan kebutuhan seharinya, untuk makan pun masih kurang. Bapak parino memiliki 3 anak yang semuanya tidak bersekolah. Kakak pertama yang berusia 15 tahun menjadi penjual surat kabar ( koran ) di pinggir jalan raya. Adiknya yang berusia 8 tahun dan 5 tahun berada dirumah dan seperti tak terawat oleh orang tuanya karena sang ayah dan ibunya berangkat pagi dan pulang kembali malam. Bapak Parino jika belum mendapatkan uang, dia tak pulang kerumah. Karena jarangnya makanan yang tersedia di rumah gubug dari kardus itu, tak jarang mereka berpuasa sampai berhari - hari. Dan apabila mereka lapar, mereka mencari sisa makanan di tempat sampah.

Negeri macam apa itu? Begitu memprihatinkan. Apakah para pejabat dan masyarakat kalangan atas tak punya rasa iba dan rasa untuk berbagi pada mereka? Kejinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS PUISI " SEPISAUPI "

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SEPISAUPI Sepisau luka sepisau duri Sepikul desa sepukau sepi Sepisau duka serisau diri Sepisau sepi sepisau nyanyi Sepisaupa sepisaupi Sepisapanya sepikan sepi Sepisaupa sepisaupi Sepikul diri sekeranjang diri Sepisaupa sepisaupi Sepisaupa sepisaupi Sepisau sepisaupi Sampai pisaunya ke dalam nyanyi Oleh : Sutardji Calzoum Bahri A.     Analisis Puisi “ SEPISAUPI “.   Pendahuluan Sastra dengan bahasa merupakan dua bidang yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara sastra dengan bahasa bersifat dialektis (Wellek dan Warren, 1990: 218). Bahasa sebagai sistem tanda primer dan sastra dianggap sebagai sistem tanda sekunder menurut istilah Lotman (dalam Teeuw, 1984: 99). Bahasa sebagai sistem tanda primer membentuk model dunia bagi pemakainya, yakni sebagai model yang pada prinsipnya digunakan untuk mewujudkan konseptual manusia di dalam menafsirkan segala sesuatu baik di dalam maupun di luar dir...

Begitulah Aku

Meramu kata dalam kalbu Terilhami oleh dirimu Menggerogoti akal budi Mempertanyakan lagi rasa ini Lakumu telah mengurungku Membatasi ruang Menjadi portal dalam hidup Ketabahan dan ikhlas ialah kunci Meleburkan setiap angkara Luka batin yg tak terselami Menyatu padu membentuk api Api yang bersumbu dari hati Pikirakanlah! Tentang kebaikan dan kesetiaan, Kesucian dan kelembutan, juga pengendalian Rasakan detak jantung di dadamu Tiada henti menghidupi Begitu pula aku

Jangan bertanya mengenai pilihan atau uraian

Kehidupan yang sedang kita alami ini bukanlah sebuah pilihan maupun uraian. Banyak orang bertanya, " Hei! Kalian hidup ingin senang atau ingin susah? ", dan hanya ada satu jawaban sesuai dengan pilihan kita. Jika hidup kita hanya memilih dan memilih saja, di mana nilai proses itu. Memang memilih juga berat, karena tidak sembarangan kita juga memilih. Tetapi yang belum kita sadari, bahwa hidup juga uraian proses dari pilihan kita. Jika kita memilih hidup untuk bahagia, uraian dari pilihan itu adalah apa yang membuat kita bahagia, siapa yang membuat kita bahagia, kapan kita bahagia, mengapa kita memilih bahagia, bagaimana kita tetap bahagia dan lain sebagainya. Hal - hal tersebut tidak dapat diisikan dengan pilihan, tapi diisikan dengan uraian. Sehingga, hidup bukanlah pilihan atau uraian. Namun hidup itu sebuah pilihan yang mana pilihan itu akan dipenuhi dengan uraian yang menjadikan pengalamam hidup kita.